Minggu, 24 November 2013

KARYA ILMIAH PENGAJARAN MEMBACA BAHASA INDONESIA DIKELAS 1 PADA SEKOLAH DASAR NEGERI 7 MERPAK



PENGAJARAN MEMBACA BAHASA INDONESIA DIKELAS 1
PADA SEKOLAH DASAR NEGERI 7 MERPAK





Oleh :

DONNY GUDUT, S.Pd.SD


 






                                                    








SEKOLAH DASAR NEGERI 7 MERPAK
KECAMATAN PINOH UTARA KABUPATEN MELAWI
KALIMANTAN BARAT
2013


ABSTRAK

Pengajaran membaca dikelas 1 SD merupakan pengajaran membaca permulaan. Tujuan pengajaran pada tahap membaca permulaan di kelas 1 ini, terutama ditekankan pada kemampuan membaca teknik yang masih terbatas pada kewajaran lafal dan intonasi. Siswa mampu membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang wajar.
Nah, sekarang penulis mengajak pembaca melihat sejenak bagaimana pengajaran membaca Bahasa Indonesia di Kelas 1 pada SDN 7 Merpak.





















PENDAHULUAN
            Mengapa penulis menulis tema Pengajaran Membaca Bahasa Indonesia di Kelas 1 pada SDN 7 Merpak ? Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis, yang bersifat reseptif. Semua yang diperoleh melalui bacaan itu akan memungkinkan orang tersebut mampu mempertinggi daya pikirnya,mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya. Dengan demikian maka kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sangat diperlukan siapapun yang ingin maju dan meningkatkan diri
            Apa yang menarik ? Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya maka kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru ; sebab, jika dasar itu tidak kuat, pada tahap membaca lanjut siswa akan mengalami kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan membaca yangmemadai. Oleh karena itu guru kelas 1 haruslah berusaha sungguh-sungguh agar ia dapat memberikan dasar kemampuan membaca yang memadai kepada anak didik. Kemudian prinsip yang paling mendasar ialah bahwa pembelajaran membaca akan menjadi optimal jika diusahakan berada dalam konteks yang bermakna (Smith,lewat Busching dan Schwartz, 1983;10).
            Hal inilah yang membuat penulis tertarik menulis karena kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak,pengalaman berkomunikasi secara aktif,dan proses berpikir yang mereka alami membuat mereka menjadi pembaca dan pendengar yang cerdas, serta pembicara dan penulis yang pandai. Apabila pengajaran membaca tidak bermakna bagi anak-anak atau tidak memiliki tujuan yang jelas, anak-anak akan gagal dalam belajar.


TUJUAN PENULISAN
            Penulisan ini dimaksudkan untuk menggambarkan pengajaran membaca Bahasa Indonesia di Kelas 1 pada SDN 7 Merpak, pengajaran yang digunakan oleh guru bergantung pada kemampuan guru itu mencari akal atau siasat agar proses belajar mengajar dapat berjalan dan berhasil dengan baik.


RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan pendahuluan dimuka maka dianggap perlu untuk melakukan penelitian mengenai Pengajaran membaca Bahasa Indonesia di kelas 1 pada SDN 7 Merpak yang paling tepat. Dengan diidentifikasinya pengertian yang paling sesuai, kemudian dapat dilakukan pengukuran-pengukuran yang dapat dijadikan dasar untuk perbaikan system di masa yang akan datang dan seterusnya. Sehubungan dengan hal tersebut,pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah cara pengajaran membaca juga merupakan masalah yang perlu diperhatikan oleh guru,  dan dalam batasan pengertian yang bagaimana. Jika ya, maka bagaimana cara yang paling tepat untuk mengukurnya serta apa factor-faktor yang mempengaruhi seseorang siswa itu menjadi siswa yang berhasil.































PENGAJARAN MEMBACA BAHASA INDONESIA DI KELAS 1 PADA SDN 7 MERPAK

1.     Gambaran singkat SDN 7 Merpak
Sekolah Dasar Negeri 7 Merpak merupakan sekolah yang berada jauh dari perkotaan (sekolah terpencil) yang terletak di Desa Merpak Kecamatan Pinoh Utara Kabupaten Melawi Propinsi Kalimantan Barat, jarak tempuh menuju ke Desa tersebut memerlukan waktu 4 jam lamanya menggunakan sepeda motor dikarenakan akses jalan yang susah dilewati yaitu menyeberang sungai melawi dan tanah berlumpur yang sangat parah.
Jumlah tenaga pengajar (guru) pada sekolah tersebut sebanyak 4 orang guru PNS dan 1 orang guru honor BOS atau komite, jumlah murid sekarang berjumlah 67 siswa. 4 guru PNS tersebut semuanya adalah laki-laki yang berasal dari daerah lain yang ditugaskan pemerintah pada sekolah tersebut sedangkan yang 1 guru honor adalah perempuan yang kita angkat dari SDM masyarakat setempat. Sebenarnya ada guru perempuan yang ditugaskan pemerintah pada sekolah tersebut tetapi itu semua berlangsung tidak lama mereka memilih untuk pindah ketempat lain,alasannya karena jarak tempuh yang sangat jauh serta sarana dan prasarana yang kurang memadai.
Sekolah tersebut memiliki 2 perumahan dinas guru yang terbuat dari papan yang sudah berdiri lama sehingga sudah hampir tumbang atau roboh, 2 ruang WC, dan 3 ruang kelas,siswa harus terpaksa mengisi 1 ruang menjadi 2 kelas. 2 lokal perumahan dinas guru ditempati oleh 2 orang guru PNS yang sudah lama mengajar sedangkan 2 orang guru PNS harus mengisi bekas bangunan balai desa yang sudah rapuh dan atapnya sudah bocor, saat turun hujan kedua guru tersebut harus mengungsi ketempat lain.
Kegiatan sekolah di SDN 7 Merpak rata-rata hanya 24 jam perminggu, bearti hanya 4 jam per hari. Pelajar akan masuk sekolah pukul 08.00 dan pulang pukul 11.00. mengapa demikian ? hal ini adalah sesuai kesepakatan antara pihak sekolah dengan masyarakat setempat karena memperhatikan faktor jarak tempuh siswa bersekolah dari dusun lain yang menggambung dengan berjalan kaki 2 jam lamanya dari rumah menuju kesekolah, pihak sekolah pernah mencoba mengikuti program pemerintah seperti sekolah yang diperkotaan dengan waktu belajar yang efektif tetapi itu hanya tidak berlangsung lama karena banyak siswa yang berhenti atau tidak mau sekolah, oleh karena itulah pihak sekolah memperhatikan serta menimbang segala aspek keputusan.
Guru-guru di sekolah tersebut menggunakan kurikulum dan silabus sesuai dengan visi dan misi sekolah yang di atur oleh pemerintah. Walaupun banyak sekali faktor yang menjadi keterbatasan tetapi guru-guru yang ada di SDN 7 Merpak dengan semangat memberikan layanan pendidikan kepada siswa sehingga telah terbukti sekolah tersebut telah meluluskan beberapa alumni atau tamatan SD tersebut.

2.     Pengajaran Membaca Bahasa Indonesia di Kelas 1 pada SDN 7 Merpak
Sebagai halnya berbicara, kemampuan awal dalam membaca mungkin diperoleh melalui interaksi sosial tidak melalui pembelajaran secara formal. Dalam kegiatan membacakan cerita yang dilakukan oleh orang tua, tampak baik guru maupun anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial.Guru memnggunakan berbagai teknik agar anak memusatkan perhatian, mengajukan pertanyaan,dan mendorong agar anak mencoba membaca.
Di samping kegiatan membaca yang dilakukan guru, acara televisi ada yang bermanfaat untuk pengembangan literasi (kemampuan baca tulis). Perkembangan membaca pada fase pramembaca yang terjadi pada anak kelas 1, anak-anak mempelajari perbedaan huruf dan perbedaan angka sehingga kemudian dapat mengenal setiap huruf dan setiap angka, guru terlibat aktif sehingga anak memusatkan pada kata lepas dalam cerita sederhana.
           
Materi pembelajaran membaca yang harus dilakukan guru, adalah :
            Semester 1
a.      Persiapan (Pramembaca)
Pada tahap persiapan ini kepada siswa diajarkan :
1.      sikap duduk yang baik
2.      cara meletakkan/memnempatkan buku di meja
3.      cara memegang buku
4.      cara membalik halaman buku yang tepat
5.      melihat/memperhatikan gambar atau tulisan

b.      setelah pramembaca, diajarkan :
1.      lafal dan intonasi kata dan kalimat sederhana (menirukan guru)
2.      huruf-huruf yang banyak digunakan dalam kata dan kalimat sederhana yang sudah dikenal siswa (huruf-huruf diperkenalkan secara bertahap sampai dengan 14 huruf)
(a)   a,i,m, dan n ; misalnya kata ini,mama kalimat :ini mama
(b)   u,l,b, misalnya kata : ibu, lala, kalimat : ini ibu lala
(c)    e,t,p, misalnya kata : itu, pita, ema ; kalimat : itu pita ema
(d)   o, d, misalnya kata : itu, bola, didi; kalimat : itu bola didi
(e)   k,s, misalnya kata: kuda,papa,satu; kalimat: kuda papa satu
3.      kata-kata baru yang bermakna ( menggunakan huruf-huruf yang sudah dikenal), misalnya : toko, ubi, boneka, mata, tamu

Semester 2
1.      lafal dan intonasi kata yang sudah dikenal dan kata baru (huruf yang diperkenalkan 10 sampai 20 huruf)
misalnya:   huruf baru       :h,r,j,g,y
                  kata baru         : hari,gula,baju,buaya

2.      puisi yang sesuai dengan tingkat kemampuan dan usia siswa
Misalnya   :           boneka
                              Itu bonekaku
                              Bonekaku baru
                              Hadiah dari ibu
                              Hadiah ulang tahunku
3.      bacaan lebih kurang 10 kalimat (dibaca dengan lafal dan intonasi yang wajar)
Misalnya: itu ibu Nina
4.      kalimat-kalimat sederhana (untuk dipahami isinya)
Misalnya : Ari dan Tuti pergi ke toko

3.     Diskusi atau membahas data yang ditemukan  
Diskusi merupakan alat evaluasi yang cukup baik. Dengan mengikuti keinginan siswa, dan guru tidak memaksakan kehendaknya sendiri, diskusi memungkinkan guru memahami siswanya sebagai pembelajar dan membimbing mereka menghubung-hubungkan kemampuan berbahasa mereka.
Pengajaran membaca dikelas 1 SD merupakan pengajaran membaca permulaan. Tujuan pengajaran pada tahap membaca permulaan di kelas 1 ini, terutama ditekankan pada kemampuan membaca teknik yang masih terbatas pada kewajaran lafal dan intonasi. Siswa mampu membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang wajar.
Yang menimbulkan masalah ialah tidak ada pedoman yang jelas mengenai bagaimana lafal serta intonasi yang tepat. Oleh karena itu yang dipakai sebagai pedoman ialah kewajaran ; wajar, tidak dibuat-buat dan tidak terlalu menunjukan cirri kedaerahan. Melalui pengajaran membaca, siswa diharapkan mampu menyuarakan tulisan dengan lafal dan intonasi yang wajar.

































KESIMPULAN

Dalam kegiatan pengajaran apabila guru hendak mengadakan evaluasi misalnya saja mengevaluasi kemampuan siswa membaca kalimat sederhana, ia memerlukan data tentang kemampuan membaca itu. Untuk memperoleh data tersebut, ia perlu menggunakan alat pengukur misalnya dengan member tugas membaca kalimat-kalimat sederhana. Dari hasil pemberian tugas itu, guru memperoleh data tentang kemampuan membaca siswa. Setelah data diperoleh, guru dapat memberikan evaluasi tentang tingkat kemampuan siswa dalam hal membaca kalimat.
Salah satu cara mengevaluasi membaca ialah meminta siswa memilih bagian buku yang disenangi yang baru saja mereka baca, untuk dibacakan di depan kelas. Guru dapat pula membuat fotokopi bagian suatu buku yang telah dibaca oleh siswa kemudian meminta siswa membacanya di depan kelas.
Setiap kali guru akan mengajar tentu mempersiapkan diri dengan menyusun program. Berdasarkan program yang telah dibuat itu, ia menyusun persiapan mengajar.
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan program, yakni alokasi waktu dan identifikasi bahan pembelajaran (menurut Murkhan 1995:7-8).
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar